INFO TERBARU

Recent

Jumat, 11 Maret 2022

Wajib Tau !!! Hukum Tahlilan Menurut 4 Imam Mazhab

Wajib Tau !!! Hukum Tahlilan Menurut 4 Imam Mazhab

Hukum tahlilan menurut 4 imam mahzab - Sudah tidak heran lagi dengan kebiasaan masyarakat Indonesia jika ada seseorang yang meninggal maka keluarganya akan mengadakan acara tahlilan.


 Tahlilan tersebut dilakukan selama 7 hari berturut-turut hingga hari ke-40, hari ke-100 nya dan hari ke-100 sejak kematiannya orang tersebut.


 Tahlilan juga sering diadakan setiap malam jumat dan malam penting tertentu lainnya. Setelah tahlilan selesai biasanya pemilik hajat (orang yang mengadakan acara tahlilan) menghidangkan beberapa makanan untuk orang orang yang mengikuti kegiatan tersebut untuk makan ditempat maupun makanan yang akan dibawa pulang. 


Tahlilan adalah kegiatan membaca dan melantunkan serangkaian surat Al Quran, sholawat, kalimat tasbih, tahmid dan istighfar yang dilakukan secara bersama orang orang maupun sedang sendirian yang pahalanya nanti akan dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal.


 Bagaimana hukum tahlilan menurut beberapa ulama besar? 


Mengenai hukum tahlilan itu sendiri, sebenernya tidak ada kata sepakat dikalangan para ulama. Sebagian ulama menghukumi boleh dilakukan dan sebagian ulama lainnya menghukumi tidak boleh dilakukan.


 Akan tetapi secara umum, para ulama dikalangan ulama 4 mahzab berpendapat bahwa boleh mengadakan kegiatan tahlilan untuk orang yang sudah meninggal dan pahalanya juga akan tersampaikan kepadanya (orang yang sudah meninggal). 

1. Hukumnya menghadiahkan pahala dari bacaan Al-Quran dan kalimat tayyibah untuk orang yang sudah meninggal


Para ulama besar berbeda berpendapat mengenai hukum menghadiahkan pahala dari bacaan Al-Quran dan kalimat tayyibah untuk orang yang sudah meninggal.


 Yang pertama, ulama mazhab Imam Hanafi, ulama mazhab Imam Syafi'i, ulama mazhab Imam Maliki dan ulama Imam Hambali menegaskan bahwa menghadiahkan pahala dari bacaan Al-Quran dan kalimat tayyibah kepada orang yang sudah meninggal hukumnya diperbolehkan dan pahala dari bacaan Al-Quran tersebut akan sampai kepada orang yang sudah meninggal itu. 


Baca Juga : Orang Meninggal Di Hari Jumat


Syekh Az-Zaila’i dari mazhab Hanafi menyebutkan bahwasanya seseorang boleh menjadikan pahala amal baiknya untuk orang lain, menurut pendapat para Ahlussunnah wal Jama’ah, baik berupa dzikir, shalat, haji, puasa, sedekah, membaca alquran dan lain sebagainya yang berupa semua jenis amal baik. 


Pahalanya itu akan sampai kepada orang yang sudah meninggal tersebut dan sangat bermanfaat baginya. 


Sedangkan, Syekh Ad-Dasuqi dari mazhab Maliki menyebutkan bahwasanya Jika seseorang membaca Al-Qur’an, dan menghadiahkan pahala dari bacaannya kepada orang yang sudah meninggal maka hal itu diperbolehkan, dan pahala bacaannya juga akan sampai kepada orang yang sudah meninggal. 


Sama halnya dengan kedua ulama di atas, imam Nawawi dari mazhab Syafi’i menuturkan bahwasanya disunnahkan bagi peziarah kubur agar untuk mengucapkan salam kepada (penghuni) kubur, serta mendoakan sang mayit yang diziarahi dan semua penghuni kubur.


 Serta salam dan doa lebih diutamakan menggunakan apa yang sudah ditetapkan dalam hadits Nabi. Begitu juga, disunnahkan untuk membaca apa yang sudah ada dari Al-Qur’an, dan berdoa untuk mereka setelahnya. 


Syekh Ibnu Qudamah dari mazhab Hanbali menuturkan bahwasanya ibadah apapun yang dikerjakan, serta dia menghadiahkan pahala untuk orang yang sudah meninggal yang beragama muslim akan memberi manfaat baginya.


 Dan Insya Allah, untuk doa, istighfar, sedekah, dan pelaksanaan kewajiban tidak melihat adanya perbedaan pendapat (akan kebolehannya). 


2. Hukumnya mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca dan melantunkan bacaan alquran dan kalimat tayyibah untuk orang yang sudah meninggal


Beberapa ulama besar memperbolehkan pengkhususan waktu tertentu untuk melakukan ibadah seperti membaca dan melantunkan bacaan al-quran dan kalimat tayyibah di malam jumat dan setelah melakukan sholat lima waktu. 


Dan mereka berpegangan teguh terhadap hadist riwayat Ibnu Umar radhiyallahu'anhu yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW selalu mendatangi masjid quba' disetiap hari sabtu dan melakukannya dengan berjalan kaki dan berkendara. Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu juga selalu melakukannya.


Mengomentari hadist tersebut, Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani berkata bahwa hadist ini menunjukkan kebolehan untuk mengkhususkan  sebagian waktu ataupun sebagian hari untuk melakukan ibadah amal shaleh dan melanggengkannya. 


Kesimpulan dari hadist tersebut dan komentar dari al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa mengkhususkan hari-hari tertentu seperti halnya 7 hari berturut-turut setelah kematian seseorang, hari ke-40, hari ke-100 dan hari ke-100, setiap malam jumat dan malam lainnya untuk membaca dan melantunkan bacaan al-quran dan kalimat tayyibah hukumnya diperbolehkan. 


3. Hukumnya bersedekah untuk orang yang sudah meninggal


Para ulama besar bersepakat bahwasanya bersedekah untuk orang yang sudah meninggal itu hukumnya diperbolehkan dan pahala dari sedekah itu nantinya akan sampai kepada orang yang sudah meninggal tersebut. 


Para ulama besar tersebut berpedoman pada hadits riwayat Aisyah radhiyallahu anha yang menjelaskan bahwa dulu ada seseorang yang mendatangi nabi Muhammad SAW dan berkata kalau ibunya sudah meninggal dan meninggalnya dalam keadaan tiba tiba dan belum sempat berwasiat. 


Dia merasa kalau sebelum meninggal ibunya sempat berbicara, ibunya pasti akan bersedekah. Seseorang yang datang itupun bertanya kepada nabi Muhammad SAW apakah ibunya nanti akan mendapatkan pahala jika dia bersedekah untuk ibunya dan nabi Muhammad SAW menjawab iya.


Mengomentari hadist tersebut Imam Nawawi berkata, hadist tersebut menjelaskan bahwasanya bersedekah untuk orang yang sudah meninggal itu sangat bermanfaat dan pahala 


dari sedekah itu nanti akan sampai kepada orang yang sudah meninggal tersebut. Para ulama besar bersepakat mengenai tentang sampainya pahala sedekah kepada orang yang sudah meninggal. 


Jadi kesimpulannya bahwasanya tahlilan itu diperbolehkan dalam islam karena mayoritas para ulama bersepakat dan menegaskan bahwa kebolehan menghadiahkan pahala membaca al-quran dan kalimat tayyibah untuk orang yang sudah meninggal. 


Sebagaimana mereka juga membolehkan untuk mengkhususkan waktu tertentu untuk membaca al-quran dan kalimat tayyibah. 


Para ulama juga sepakat akan kebolehan bersedekah untuk orang yang sudah meninggal. Wallahu A’lam.


Demikian artikel seputar  Hukum Tahlilan Menurut 4 Imam Mazhab. Semoga mbermanfaat dan bisa menambah wawasan kalian tentunya.


Sampai jumpa guyys.


Share this:

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Souvenir Tahlilan 40, 100, 1000 Hari | +62 813-2666-1515. Designed by OddThemes